Posts Tagged ‘silat’


Keaneka ragaman gerak yang diciptakan oleh alm. Suhu Subur Rahardja, sang pendiri perguruan silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih, dan semenjak berpulangnya beliau, perguruan dilanjutkan dan dikembangkan oleh Guru Besar Gunawan Rahardja, untuk memberikan pengajaran dan pembelajaran berolah tubuh agar tetap bermuara pada upaya pencapaian spirit / daya meraih keseimbangan jasmani/badan dan mental/jiwa seseorang. Seni olah tubuh PGB Bangau Putih tidak hanya berkaitan dengan teknik-teknik dan keterampilan bela diri semata, tetapi juga upaya pengolahan gerak dari sisi kesehatan pada umumnya. Estetika gerak tidak hanya dari sisi aplikasi gerak beladiri namun dengan olah gerak tersebut bila digali akan berlapis nilai keilmuan yang dapat dipelajari dan diolah.

Ketika berlatih gerakan silat adalah saat dimana memberikan waktu bagi badan untuk mengaktualisasi diri ke dalam gerak dan mengistirahatkan sementara aktifitas pikiran. Mari kita menengok metode pembelajaran olah gerak tubuh dari sisi olah gerak jalan pendek. Pada metode gerak jalan pendek terdapat 365 macam gerak di perguruan ini jika ditafsirkan bahwa satu tahun terdiri atas 365 hari, maka dalam satu hari setidaknya satu gerakan untuk berolah gerak pada anggota tubuh kita. Sehingga pembentukan olah gerak akan terjadi dengan sendirinya, karena badan akan merespon ketika kita melakukan gerakan silat, badan akan menyimpan ingatan /memory secara gerak dengan sendirinya, tidak perlu dipikirkan lagi. Pelaku gerak tidak perlu menghapalkan gerakan, namun cukup dilatih dan digerakkan dalam posisi yang tepat.

 

Apakah ada kaitannya dengan kesehatan di badan kita? Mengapa di perguruan ini di dalam metode pelatihan tidak memakai alas kaki?

 

syaraf-telapak-kaki

syarat telapak kaki

Jawabannya: “Ya !!!”, semisal di metode gerak ‘jalan pendek’ yang sangat akrab bagi pelakunya, yaitu kuda berjalan, dengan adanya pergeseran antara telapak kaki dan lantai latihan akan menimbulkan daya rangsang berupa panas yang secara alami akan menjalar melalui syaraf- syaraf di telapak kaki, yang selanjutnya daya rangsang panas tersebut akan menyebar luas ke tubuh bagian atas. Daya rangsang panas selanjutnya akan tersambung dengan sistem syaraf yang pada tingkatan paling sederhana, fungsi sistem saraf adalah untuk mengirimkan sinyal dari satu sel ke sel lain, atau dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Daya panas tersebut akan membantu kinerja dari sistem syaraf maupun ke organ tubuh manusia. Semisal daya rangsang panas tersebut akan tersambung pada organ pankreas, dimana kita semua tahu bahwa organ pankreas sebagai penghasil insulin untuk pengontrol kadar gula dalam darah. Jika pengolahan gerak dilakukan berulang kali dan terus menerus, organ pankreas akan lebih terjaga dalam porsi kinerja mengontrol kadar gula dalam darah, sehingga dapat menjaga kemungkinan dari potensi menderita penyakit diabetes. Selain tentu saja dengan tetap menjaga pola hidup dan pola makan setidaknya kita dapat menjaga kesehatan dengan tindakan preventif yang sederhana hanya berolah gerak dengan meluangkan sedikit waktu untuk berlatih.

Bagaimana dengan organ yang lain seperti organ lambung, lever/hati, paru-paru, ginjal, jantung? Padahal hampir semua gerakan di perguruan silat PGB Bangau Putih ini, menggunakan metode pergeseran kaki, lho ….!!!!!

Nah ……., bagaimana dengan gerakan di tangan, kaki atau gerakan berguling, loncatan? Semua gerakan tersebut akan mengolah tubuh dari sisi kesehatan pada umumnya, nantikan pada tulisan selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

“Tetap berlatih walau ruang dan waktu sempit.”

Posted by antosilat from WordPress for BlackBerry.


batu

Perguruan silat PGB Bangau Putih telah beberapa kali membuat perubahan standard gerak bagi anggota. Standard-standard gerak baru dibuat untuk menyesuaikan kondisi zaman.

Penulis pun tak luput dari perubahan tersebut pada tahun 1993 dan 2012. Standard gerak pertama saat masing-masing peringkat memiliki 18 jalan pendek. Pada periode sebelumnya, malah ada beberapa peringkat sabuk yang memiliki 36 macam gerak jalan pendek. Bayangkan jika tiap-tiap peringkat memiliki jalan pendek sebanyak 36 macam di era sekarang ini, dengan kondisi masyarakat yang terbiasa dengan hal-hal yang instan, apa masih dapat dijalani?

Apa itu jalan pendek?

Istilah jalan pendek, mungkin bisa diartikan bahwa bentuk gerakan yang sepotong, dan harus dilatih dengan kedua sisi anggota badan. Kanan dan kiri bergantian, baik itu gerakan maju atau ada gerakan yang mundur.

Materi jalan pendek merupakan pembelajaran untuk beladiri dan kesehatan. Pada metode standardisasi lama nama gerakan lebih mengacu pada detail gerak, seperti “tangkis pukul” yang sangat mudah dibaca (dan memperkirakan bentuk gerakan seperti apa) namun pada tahun 2012 sudah diubah dan disosialisasikan dengan menggunakan nama yang lebih puitis; “Memukul angin”, “Gelombang Menggempur Pantai”, “Menyusup Barisan”, dan lain sebagainya. Murid-murid yang lupa atau belum tahu nama gerakan pasti tidak bisa mengira-ira bentuk gerakan tersebut seperti apa sehingga bentuk gerakan akan lebih terjaga.

pa toan

Latihan gerak jalan pendek

Dengan menggerakkan jalan pendek, para murid dilatih untuk mengkoordinasikan gerak motorik. Pengolahan gerak jalan pendek pada sisi kanan dan kiri tubuh berarti akan mengolah sisi otak kanan dan otak kiri. Dari berbagai bentuk olah gerak tubuh tersebut diharapkan peserta didik dapat mengenal anggota badannya sesuai dengan kapasitas maupun fungsinya. Misalnya, bagaimana menggunakan lengan untuk memukul, setidaknya cukup lengan yang disodorkan ke depan, tidak perlu dengan badan condong ke depan. Atau jika ingin menendang cukup mengangkat kaki tidak perlu anggota badan lain yang bergerak.

Pemberian nama pada tiap gerakan jalan pendek membuat peserta didik akan mengolah “mind” dan “body” secara berkesinambungan. Sehingga tidak sekadar menghapal nomor gerakan di sabuk, tetapi lebih mengkondisikan gerakan tersebut secara aktual dan tanpa dibuat-buat. Hasilnya, para murid dapat lebih mencerna gerakan dan bergerak dengan lebih fokus.

 

“Tetap berlatih walau ruang dan waktu sempit”

 

Posted by antosilat from WordPress for BlackBerry.


Ambilan

Setiap perilaku adalah suatu proses yang bergetar, yang tumbuh dan berkembang serta membusuk selaras dengan prinsip tunggal. Sebuah pengajaran tentang filsafat seni kehidupan dalam menguasai lawan tanpa merendahkan, tanpa menyakiti, tanpa melukai lawan. Ajaran cinta kasih di perguruan yang memotivasi murid untuk saling mengasihi dalam konteks berlatih, bahwa di lantai latihan, “lawan” adalah saudara seperguruan yang bersama mempelajari ilmu gerak olah tubuh. Lawan sebenarnya adalah keinginan diri untuk menjatuhkan secara fisik. Penguasaan diri terhadap emosi bergejolak antara berhasil dan gagal dalam hasil yang diperoleh.

AmbilanBagi murid-murid di perguruan silat PGB Bangau Putih tentu tidak asing lagi dengan istilah materi latihan ambilan, kuncian maupun bantingan. Ambilan adalah suatu bentuk pelatihan untuk saling belajar menjatuhkan lawan. Dalam metode bagaimana murid menempatkan dirinya dalam posisi ketika lawan menyerang dan bagaimana menjatuhkannya. Secara tehnis, ambilan yang menjadi bagian dari pembelajaran olah gerak ini memerlukan pasangan untuk berlatih. Menjadi sebuah diskusi, tanya jawab, saling memberi dan menerima berbalasan dalam olah gerak tubuh.

Satu hal yang pasti diberikan sebelum murid diijinkan untuk melakukan gerak berpasangan ambilan, jika tehnik jatuhan murid sudah lancar yang secara pasif dilakukan seorang murid dalam pelatihan keterampilan, lalu pelatih mencoba untuk menjatuhkan murid dengan tetap menjaga kepala dan kenyamanan berlatih murid, sehingga murid akan mendapatkan kepercayaan diri untuk jatuh, daya reflek di badan, terutama agar kepala tidak terbentur ke lantai latihan.

Pembelajaran untuk saling bersikap jujur. Jujur pada rasa saat berlatih, maksudnya jika yang menyerang (A) sudah dalam posisi dirubah oleh yang melakukan ambilan (B), A tidak harus bersikap memaksa untuk tidak mau jatuh, dan A juga tidak harus berpura-pura jatuh jika memang tidak jatuh tanpa berubah posisinya. A dan B saling mengisi untuk belajar ambilan dan jatuhan. Sedang bagi B belajar menghindari unsur pemaksaan saat menjatuhkan lawan. Belajar meruang, berarti mengenal bagaimana posisi saat akan melakukan ambilan tersebut.

Bentuk ambilan dapat berupa besetan, sapuan, congkelan, bantingan, kuncian. Bentuk ambilan disesuaikan dengan tingkatan sabuk ataupun jam terbang latihan, karena akan membutuhkan waktu untuk proses mengalami melakukannya.

Dari yang rumit menjadi sederhana. Metode pembelajaran berlatih yang meliputi; posisi, feeling (rasa), timing (ketepatan waktu), penggunaan gerak, dan mental. Kelima hal tersebut menjadi panca dasar tahap pembelajaran dalam ilmu gerak di perguruan silat persatuan gerak badan (PGB) Bangau Putih, pada pembelajaran terutama untuk ambilan dan tui cu (latihan sparring PGB).

Tingkatan ambilan:
Secara standarisasi, murid akan mendapatkan tehnik ambilan 2-3 macam di setiap tingkatan sabuknya.

Manfaat yang dapat diambil dari proses pembelajaran ambilan ini, antara lain;

  1. Ketenangan
  2. Kemantapan
  3. Keberanian
  4. Keseimbangan
  5. Disiplin

Ketenangan, secara kognitif ketenangan tidak bisa diajarkan, hanya bisa dilakukan pelaku dalam menyikapi kondisi. Sangat mungkin ketenangan adalah bagian dari relatifitas gerak. Sampai sejauh mana seseorang dapat mengkondisikan dirinya ketika menghadapi suatu keadaan yang terjadi dengan tiba-tiba /dadakan, sisi psikologi berpengaruh dalam laku gerak ambilan ini. Ketenangan bersifat nyata apa adanya, tanpa dibuat-buat.

Kemantapan, seperti halnya ketenangan, kemantapan hanya bisa diperoleh dengan laku yang berulang-ulang, sehingga polaritas akan terbentuk. Sisi kemantapan dalam berlatih ambilan ketika si pelaku hanya menggunakan tenaga seminimal mungkin untuk menjatuhkan, dan si lawan tidak mendapatkan cidera.

Keberanian, satu hal yang diperoleh pelaku gerak adalah menghadapi kenyataan mengenai masalah yang ada. “Tak ada kuda-kuda yang tak bisa dijatuhkan,” adalah sepenggal puisi dari alm. Suhu Subur Rahardja, pendiri Perguruan PGB Bangau Putih. Juga mengisyaratkan bahwa permasalahan harus dihadapi bukan dihindari atau lari dari masalah. Semakin menghindar atau lari, permasalahan akan mengikuti kita. Secara tehnis, tak perlu takut atau minder ketika berhadapan dengan lawan yang tinggi besar, jika secara tehnis belum mencukupi untuk menjatuhkan akan lebih nyaman jika si pelaku belajar ‘feeling’ tenaga dan posisi dari lawan.

Keseimbangan, sebelum merubah keseimbangan lawan dengan melakukan gerakan merubah posisinya, sewajarnya juga harus merasakan keseimbangan diri sendiri. Bagaimana bisa merubah posisi keseimbangan lawan jika posisi sendiri masih belum seimbang? Belajar mengkondisikan diri melalui tahap bagaimana bersikap siap menerima serangan.

Disiplin, bahwa perguruan ini mendisiplinkan muridnya dari melalui olah gerak mind-body-spirit. Ujar-ujar mendiang alm. Suhu Subur Rahardja, “Jangan Yakin akan Maju, Harus Yakin akan Disiplin.” Kalimat yang sarat dengan makna.

Pendisiplinan laku hidup keseharian tentang bagaimana menjalani suatu proses hidup dan kehidupan. Jika tak diikuti dengan penyadaran diri dalam gerak tidak mungkin tercapai tahap pencapaian “maju” secara prestasi sesuai yang diinginkan. Pembelajaran mengenai tidak adanya proses yang instan dalam kehidupan ini.

Lalu pertanyaannya, “sampai sejauh mana kedisiplinan diri dalam hidup, di ruang latihan?”, “bagaimana mengimplementasikan sisi ambilan dalam kehidupan nyata?”

= tetap berlatih, walau ruang dan waktu sempit =

 

Posted by antosilat from WordPress for BlackBerry.

Momentum

Posted: July 19, 2013 in Momentum
Tags: , , , , ,

Red Candle

 

Salam Perguruan,

Kini berbahagialah diri ini, hari ini yang telah menjangkau waktu dua dasawarsa sebagai praktisi silat PGB Bangau Putih. Di rumah tua Kebon Jukut no.1, Sukasari, Bogor yang menjadi saksi sebagai tempat belajar silat dan kehidupan. Sebagai kawah candradimuka bagi diri sendiri. Belajar memaknai silat dan kehidupan itu sendiri. Silat sebagai jalan hidup. Silat sebagai pengurai dan jalan keluar ketika menghadapi permasalahan hidup.

Jadi ingat saat membaca dan menyimak sajak dari (alm) WS Rendra, yang juga senior di perguruan:

“Hidup Tidaklah untuk Mengeluh dan Mengaduh.”

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup.
Bekerja membalik tanah.
Memasuki rahasia langit dan samodra.
Serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas.
Karena tugas adalah tugas.
Bukan demi sorga atau neraka.
Tapi demi kehormatan manusia.
Karena sesungguhnyalah kita bukan debu.
Meski kita sudah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian.
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang.
Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya
—*

Silat memang menyiratkan pada bagaimana kita harus menyikapi hidup ini. Kehidupan yang semakin dipadati oleh ke-instan-an, dicipta untuk saling mengkonsumsi yang tiada batas. Dan terjebak untuk tetap mengkonsumsi jika tanpa ada batasan. Dan batasan itu seharusnya dicipta oleh diri sendiri.

Suatu ketika bersama sdr. Jimmi, bersilaturahmi di bengkel teater, Depok, bertemu langsung dengan alm. Mas Willi, biasa kami menyapa akrab, beliau menyempatkan bercerita tentang hidup dan kehidupan. Sepenggal kata-kata beliau yang masih teringat, “ketika kamu jadi batu, jadilah batu yang berlumut.” Saat ditanya, maksudnya apa mas? Beliau hanya tersenyum, nanti kamu akan dapatkan jawaban itu. Waduh….???

Kata-kata mutiara seolah menjadi inspirasi untuk memotivasi diri, agar senantiasa terus menata diri. Bagaimana harus mengolah diri agar tetap berproses, mengasah diri agar tetap up to date, agar bisa beradaptasi tanpa harus menanggalkan harga diri. Dan di silat ini, mengajarkan untuk berbenah, agar tidak posesif terhadap ruang dan waktu.

Nah, terus silat kamu itu mau dibawa kemana bung? Apa juga mau mengupas rahasia silat juga? Terus sampai kapan?

Dan pertanyaan itu memang berasal dari dalam diri juga, bukan karena terprovokasi atau iri melihat keberhasilan teman dari sisi finansial. Tidak sama sekali. Dan pertanyaan tersebut berhasil ditepiskan, ketika silat menjadi pilihan hidupku. Menjalani kehidupan dengan silat. Memang silat disini tidak hanya berkisah di lantai latihan. Lantai latihan sebagai miniatur kehidupan. Bagaimana ketika tui cu seperti bagaimana harus berdialog dan interaksi pada orang lain. Bagaimana ketika ambilan seperti kita harus mengatur posisi dan belajar mengambil keputusan dengan tetap mengacu pada etika bermasyarakat. Bagaimana ketika berproses gerak jalan pendek seperti bagaimana harus mengetahui setiap langkah demi langkah untuk menjaga dan mengenal posisi dimana kita bergerak. Bagaimana ketika berlatih gerak jalan panjang seperti menyelami polemik kehidupan di dalam diri. Dan mungkin masih banyak lagi dari sisi yang lain.

Semoga masih tetap bisa berkarya, belajar berlaku sebagai “akar”.

Sungkem bagi ibunda dan keluarga tercinta di Jogja yang mendukung pilihan ini.

Terima kasih, hormat dan salam soja pada Guru Besar Gunawan Rahardja yang selalu membimbing dan bersedia menjadi curhat bagi murid-muridnya.

Doa teruntuk Suhu Subur Rahardja, yang telah mewariskan ilmunya melalui masyarakat dan kebudayaan. Semoga selalu dalam damai yang abadi di sisi Tuhan YME.

Ya Allah, ajari diri ini untuk selalu bersyukur di setiap ruang dan waktu-Mu.

Amin Yaa Robbal ‘alamiin

 

 

Posted by antosilat from WordPress for BlackBerry.

Selamat Datang

Posted: June 30, 2013 in Aktifitas
Tags: , , , , , ,

Selamat Datang di blog antosilat, artikel di blog ini sebatas catatan kecil selama 20 tahun, mengikuti pelatihan olah gerak “mind, body dan spirit”, di Perguruan PGB Bangau Putih.

Sekedar bagi-bagi pengalaman berlatih untuk saudara seperguruan ataupun pemerhati olah gerak ataupun beladiri.

Salam,
Anto

Silat Adventure

Tempat Ritual Berlatih Silat