Proses Pembelajaran


Pembelajaran Olah Gerak Tubuh

Geseran, Gulingan dan jatuhan menjadi sangat akrab bagi murid di perguruan ini. Menjadi akrab karena dari awal sudah diberikan metode pelatihan. Kenapa kok bergeser, berguling, jatuh? Apakah ada pemaknaan terhadap materi tersebut?

Entah pemaknaan tersebut baru terfikirkan setelah sekian lama berkutat dengan aktifitas tsb. Apakah benar bahwa pemaknaan tsb dengan maksud agar lebih membumi, lebih mendasar, agar terkondisikan dapat bangun kembali setelah jatuh, terbiasa berguling agar mengingatkan tak selamanya berada dibawah ataupun diatas. Mungkin…..

Jatuhan – Gulingan

Berlatih jatuhan & gulingan terkondisikan oleh keberadaan badani. Bisa ke depan, belakang, samping kiri-kanan. Begitu fleksibel, tanpa harus takut terjengkang, tanpa takut terjerembab, tanpa takut terpeleset. Badan sudah mengalami ritual gerak, sudah berproses akrab terhadap jatuh dan berguling di lantai latihan dan berulang-ulang hingga proses polaritas gerak muncul.

Awal Pengemblengan Diri

Laku Silat yang tidak hanya berguling-guling dilantai, kudu jatuh, terkadang kena pukul atau bengkak sekalipun sudah menjadi kenyataan yang dialami, tetapi arena laku silat ternyata tidak hanya di area tempat latihan, 14 jam berlatih secara fisik dan mental baik di dalam ataupun diluar TC. Teringat akan suatu pepatah “ombak tenang di lautan tak akan menjadikan nahkoda yang handal”, atau ujar-ujar dari alm. Suhu Subur Rahardja, “Umur batu tiada yang tahu, membesar karena benturan.” Selalu mencoba mengambil hikmah di semua kejadian, mencoba berfikir positif. Mengeluh hanya menjadi beban keberlanjutan.

Di akhir tahun ke-2, menjalani  masa pelatihan keras, menerima materi dari satu pelatih ke pelatih lain, tanpa memperbandingkan satu dengan yang lain. Tak lupa bonus kepret dan kepalan tangan mampir dibagian badan atau wajah. Terkadang entah sengaja atau tidak menciderai. Semuanya direlakan, diterima. Tanpa harus dibahas, tanpa harus mengaduh apalagi mengeluh.

Entah mengapa tiba-tiba tersadarkan; cepat atau lambat, mau / tidak mau atau tidak bersedia sekalipun akan menjadi anggota yang ditugaskan untuk melatih. Weleh…..weleh….terus bagaimana? Kabur??? Tapi apakah bisa jika sudah jatuh hati terus tinggalkan begitu saja??? Cuma karena tidak suka menjadi pelatih? ……the show must be go on !!! Lanjut…..bro !!!

Jadilah sang otak menyusun rencana-rencana dan ber’nego’ dengan sang badan untuk menambah jam terbang berlatih. Mengolah yang sudah diterima. Berlatih Pagi 3 jam – sore 3 jam – malam 2 jam, berlatih setiap hari selama 8 jam, berapa lama? Seminggu, sebulan, setahun? Heeheee…., sang badan hanya berkilah, biarlah aku yang melakoninya, dan terjadilah 1 tahun berlatih sendiri (terkadang ditemani saudara seperguruan yang lain). Uff….. tapi ……….. proses terhenti ketika sang badan tak kuat, harus menghadapi kenyataan pahit; sakit kuning, cidera di lutut dan luka dalam. Pahit memang …. dan selanjutnya selama 3 bulan berproses kembali untuk masa pemulihan, secara fisik dan mental. Dan dimasa pemulihan tersebut hanya satu gerakan yang benar-benar diingat yaitu: GESERAN dan PA HONG.

Proses berlatih tidak berhenti disitu, berlanjut ketika mendapat godaan dari sang otak kepada sang badan. “Imbangilah berlatih keras dan makananmu.” Keinginan untuk mengenal lebih jauh tentang silat membawa badan terus bangkit dan kembali berlatih keras. Dari tahun ke tahun proses berlatih berubah menyesuaikan kebutuhan.

Kebimbangan

Dalam berproses, badan akan merefleksikan dirinya untuk berhubungan dengan sang otak. Dalam arti gerak, badan sebagai media laku, otak diistirahatkan agar tidak terlalu aktif saat bergerak.

Mudah diteorikan, tak mudah dirasakan. Tak semudah menghubungkan perasaan dan pikiran menjadi satu kesatuan. Seringkali terjadi konflik antara pikiran dan badan (* dan rasa). Bilamana dalam praktik gerak selalu mencari pendalaman ‘arti feeling‘. Dari metode satu ke metode lain, pemahaman gerak ‘mind-body-spirit’ selalu mengikuti jika disadarkan. Acapkali mencari bentuk ‘presisi’ yang seperti apa yang pas buat badan.

Bimbang dan frustasi pada pola latihan menjadi sahabat akrab ketika berlatih. Merasa tak pernah bisa melakukan gerak dengan baik, dan malah semakin tidak mengerti tentang gerakan. Lebih sering terlambat dalam berproses. Masih dalam taraf ‘mencari-cari’ dari metoda pelatihan silat. Masih jauh dari ‘menemukan’ apa yang dijelaskan oleh Guru Besar. Berlatih dari tahun ke tahun semakin tidak mudeng.

Belum ada kepuasan saat melakukan gerak jalan panjang, gerak jalan pendek maupun liong bun. Masih sebatas ilmu gerak. Masih sebatas kulit luar saja. Sebut saja gerak ular, bangau, daun bambu, dewa mabuk (yang paling sering digerakkan). Walau mungkin sudah melakukan metode pelatihan berbagai macam. Sampai berapa lama???

Salam Perguruan,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s