Kebosanan dan Kejenuhan adalah Teman Aktivitas, Musuh dari Motivasi dan Tanggung Jawab

Posted: November 30, 2016 in Aktifitas

 

Ketika kita membicarakan tentang manusia, tidak akan terlepas dari pembahasan badan, hati dan pikiran. Manusia akan merasa bahagia jika terdapat keseimbangan dari tiga unsur tersebut. Penjelasan secara sederhana sebagai berikut:

 

  • Aktivitas adalah hasta/badan
  • Motivasi adalah karsa/keinginan yang datang dari pikiran
  • Tanggung jawab adalah rasa/hati.

 

Beraktivitas yang kurang diimbangi dengan karsa dan rasa atau motivasi dan tanggung jawab, cepat atau lambat akan membentur hasta atau badan. Akibatnya, seseorang akan merasa capek, bosan, jenuh. Ketika rasa tersebut dihubungkan dengan pikiran yang bimbang tidak bertujuan, maka hati mulai goyah. Motivasi menurun dan tanggung jawab terabaikan.

 

Sebaliknya, jika kita mengenali bahwa rasa bosan dan jenuh adalah wajar dan akan selalu ada, maka rasa ini dapat menjadi deteksi kesehatan dan pemicu prestasi yang baik. Artinya, ketika kita bosan, jenuh atau capek, harus kita sikapi dengan pertanyaan: apakah kita terlalu keras bekerja? Apakah kita kurang olahraga? Apakah pola makan dan pola hidup tidak seimbang? Atau kita kurang kreatif? Dan pertanyaan lain kepada diri kita yang akan memunculkan jawaban-jawaban positif. Selanjutnya, laksanakan hasil tanya-jawab dengan diri kita tersebut sehingga kita tetap beraktivitas. Inilah yang dimaksud menjadikan bosan dan jenuh sebagai teman aktivitas kita. Jadi, pendekatan ini merupakan pengenalan kelemahan diri untuk dijadikan kekuatan dalam hidup kita.

 

Dalam ilmu EQ (Emotional Quotient) dikatakan antara lain, seseorang ber-EQ cerdas harus dapat cepat bangkit dari kegagalan dan bersemangat kembali. Tujuannya adalah agar kita pantang menyerah, menerima kegagalan untuk menghadapi tantangan kehidupan, mampu merubah situasi bencana menjadi keberuntungan, menjadi manusia yang semakin baik. Kesemuanya itu merupakan satu pola : berpikir positif.

 

Membangkitkan pikiran positif

 

Ada sepotong cerita: sebuah perusahaan sepatu mengirim seorang sales A ke sebuah pulau. Ketika A tiba, betapa terkejutnya ia mendapati pulau itu dihuni oleh penduduk yang tidak berbaju layak apalagi sepatu! Pulanglah ia dengan lunglai dan mengatakan pada atasannya: “Tidak ada yang dapat saya lakukan, boss. Semua orang tidak pakai sepatu.” Lalu diutuslah sales B. Setiba B di pulau tersebut, dengan bersemangat ia mengatakan: “Ini dia peluang besar! Semua orang tidak bersepatu!”

 

Berpikir positif tidak sama dengan terlalu banyak berpikir secara untung rugi. Berpikir positif juga bukan untuk menuntut sebuah harapan tinggi. Tapi berpikir positif adalah pekerjaan hati. Bersedia dengan tulus melakukan yang terbaik dalam segala hal. Berpikir positif muncul dari tenaga positif, yang akan terkait kembali pada pola hidup setiap orang. Setiap kita mempunyai pola yang berbeda, untuk tujuan yang berbeda dan setiap orang akan menemukan jalan hidupnya.

 

Cerita lain: tiga orang tukang bangunan sedang bekerja. Ketika ditanya, “Sedang apa, Pak?”, Tukang A berkata: “Bekerja.” Tukang B menjawab: “Menyusun bata.” Jawaban tukang C adalah: “Saya sedang membangun sebuah kastil yang indah.”

 

Kira-kira, bagaimana dengan Anda?

 

 

 

 

positif

 

Belajar kepada alam

 

Pernahkah Anda memikirkan: mengapa ada pohon buah yang selalu berbuah lebat, tetapi ada juga yang hanya rimbun daun saja? Jawabnya adalah: pohon yang berbuah adalah pohon yang sanggup menjadikan kebosanan dan kejenuhan sebagai teman. Pohon yang tidak berbuah adalah pohon yang membiarkan kebosanan dan kejenuhan menggerogoti tanggung jawab kodratnya.

 

Coba bayangkan: pohon dapat bergerak, tumbuh tapi tidak berpindah. Setiap hari diterpa angin, hujan, panas atau terkadang gangguan manusia. Sebagai mahluk hidup, pohon juga merasakan kebosanan. Ketika pohon merasakan kebosanannya, ia akan memunculkan bunga untuk menyetop siklus rutin perkembangan batang dan daunnya. Jika pohon dapat mempertahankan siklus ini, bunga akan menjadi buah. Pohon akan memunculkan kehidupan baru setelah buah dipetik.

 

Sebaliknya, pohon yang masa bodoh dengan siklus rutinnya akan terus memperbesar batang dan menumbuhkan daun, lupa berbuah.

 

Bagaimana dengan pohon yang tidak berbuah? Ketika pohon merasakan kejenuhan dan akan memutus siklus rutinnya, pohon akan meranggas atau mematahkan dirinya. Kemudian muncul kehidupan baru.

 

Karena itu, belajar kepada alam, melakukan pembaruan diri berkesinambungan. Kenali kebosanan kita dan jadikan sebagai pemicu semangat untuk membuat hidup menjadi lebih baik.

 

(dikutip dari buletin wartabangau 2003, catatan tema perayaan bulan purnama tahun 2003)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s