SILAT: TENTANG SIKAP DAN PERILAKU

Posted: May 21, 2014 in Umum

Pencak Silat sebagai hasil krida budi atau karya pengolahanakal, kehendak, dan rasa yang dilandasi kesadaran akan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Secara garis besar pencak silat terdiri dari aspek yang merupakan satu kesatuan utuh dan bulat, yakni aspek mental spiritual, beladiri, seni, dan olahraga. Keempat aspek tersebut baik masing-masing maupun sebagai kesatuan mengandung materi pendidikan yang menyangkut sifat dan sikap ideal, yakni sifat dan sikap yang menjadi idaman bagi hidup pribadi, hidup di masyarakat, dan hidup beragama.

Ada beberapa pengertian tentang sikap (attitude) dan perilaku (behavior) menurut beberapa sumber diantaranya: Carl Jung seorang ahli yang membahas tentang sikap. Ia mendefinisikan tentang sikap sebagai “Kesiapan dari psikis untuk bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu”. Sikap sering muncul dalam bentuk pasangan, satu disadari sedang yang lainnya tidak disadari. Dari sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa, dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu.

Seseorang pun dapat menjadi ambivalen terhadap suatu target, yang berarti ia terus mengalami bias positif dan negatif terhadap sikap tertentu. Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.

Bagaimana korelasi gerak badan di perguruan silat PGB Bangau Putih mengenai  sikap dan perilaku bagi anggotanya? Jika menyimak dari diskusi bulanan pada awal bulan Mei yang lalu tentang gerak Jalan Pendek, patut kita syukuri bahwa Guru Besar Gunawan Rahardja meluangkan waktunya dengan memberikan penjelasan tentang pemaknaan Gerak jalan pendek di antara “keluwesan, kelembutan, dan kelugasan”. Terpikirkan oleh penulis jika sesi gerak jalan pendek benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa dibuat-buat, apa adanya, dan pelaku benar-benar ingin mengolah diri apakah benar ada korelasi dengan tata kehidupan individu yang melakukan gerak tersebut?

Faktor Pembangun

Sikap dan perilaku dapat dibangun mulai dari usia anak-anak hingga usia remaja. Pendidikan informal silat ini dapat menanamkan sisi pendidikan budi pekerti yang semakin terkikis oleh kurikulum pendidikan dasar sekarang ini. Sampai sejauh mana ‘sanggup menjaga sopan santun’ dari butir sumpah warga persatuan tertanam dari perilaku seorang anggota? Dengan tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur (Haidar, 2004). Hal ini mengandung arti bahwa dalam pendidikan budi pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia ke dalam diri peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya.

Sudah menjadi pembicaraan umum mengenai tingkat gangguan sosial di era sekarang lebih kompleks dibanding dengan era tahun 1990-an hingga 2000-an. Mengapa begitu? Kemajuan era teknologi mendorong masyarakat umum berpotensi merubah budaya dan gaya hidup. Berakibat tumbuh suburnya anti sosial dari usia dewasa hingga usia anak-anak. Sisi negatif yang memang tidak terlalu cepat berpengaruh tetapi lambat laun akan menyeret dan membawa pelakunya asyik dengan diri sendiri. Apakah kita sadari begitu bangun pagi banyak antara kita langsung pegang gadget? Jalan kaki sambil bergadget? Kita tengok anak-anak sekarang saat bergadget juga, bagaimana mereka terkadang tidak menjawab ketika ditanya dan perlu beberapa kali disapa atau menjawab tanpa melihat kepada siapa mereka bicara. Hingga sekarang sudah menjadi tren di masyarakat Indonesia di semua lapisan.

Saatnya merubah paradigma silat hanya sebatas beladiri! Silat dapat membentuk sebuah karakter yang lebih manusiawi dibanding mesin, karena pelaku silat memerlukan interaksi dengan orang lain – seperti saat bergerak juga memerlukan pasangan untuk saling belajar memukul dan menangkis, belajar menjatuhkan yang benar.  Dengan demikian, tampak bahwa silat juga lebih berpihak pada keaslian bentuk berbudaya sosial. Silat membawa pelakunya lebih peduli pada dunia nyata, dan lain sebagainya. Semoga dengan jalan silat yang dapat dijalankan mulai dari keluarga masing-masing dapat mengembalikan kondisi semula dan gadget hanya sebatas keperluan sesaat. Semoga. (an)

Comments
  1. Craig says:

    Menarik sekali bro. Senang juga saya melihat butir Sumpah Warga Persatuan PGB dilamatkan dengan serius dan dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s