Jurus Dewa Mabuk

Posted: July 13, 2013 in Berlatih Silat

Keilmuan PGB Bangau Putih yang beragam bukan berarti paling lengkap atau paling hebat. Anggapan itu tidaklah benar. Melihat adanya keaneka ragaman pribadi manusia yang tidak sempurna, perguruan silat PGB Bangau Putih sebagai salah satu perguruan yang membekali muridnya untuk berlatih olah gerak dengan berbagai gerakan yang dikondisikan sesuai kebutuhannya. Keaneka ragaman fisik, tenaga dan kebiasaan menjadi varian unik dalam proses pelatihan itu sendiri.

Salah satunya dari sekian banyak jurus yang diciptakan oleh alm. Suhu Subur Rahardja, adalah dewa mabuk. Kenapa disebut dewa mabuk, ya??? Seperti di film-film kungfu, atau cerita Kho Ping Ho, saja !!! Ya, memang seperti itu, tapi jangan dibayangkan bahwa yang menggerakkan harus dengan mengkonsumsi alkohol agar menjadi mabuk. Salah besar !!! Gerakan mabuk dalam silat artinya mabuk kehidupan, dengan mempelajari gerakan dewa mabuk dapat mendorong murid agar lebih mengoptimalkan potensi diri dari peluang sekecil apapun untuk tetap survive.

Pertanyaannya, mengapa jurus /gerak jalan panjang dewa mabuk tidak dimasukkan dalam standard gerak secara umum?

Mungkin jawabannya adalah;
Gerakan Dewa Mabuk diberikan tanpa persesuaian dengan karakter murid. Tidak ada spesifikasi karakter untuk gerakan ini. Hanya saja, gerakan ini akan diberikan pada murid-murid yang sudah memiliki standarisasi gerak secara umum, artinya dibutuhkan referensi atau perbendaharaan gerakan-gerakan standar. Dan dari kebiasaannya gerakan ini diturunkan atas dasar inspirasi seorang Guru dalam memandang kebutuhan murid.

Penulis mendapat gerakan salah satu dari jalan panjang dewa mabuk ketika baru berlatih 10 tahun. Selama 3-4 bulan gerakan baru selesai diberikan langsung oleh Guru Besar. Nama gerakannya jalan panjang Dewa Mabuk Memukul Lonceng. Gerakan ini baru pertama dikeluarkan oleh Guru Besar, karena sepengetahuan penulis, sebelumnya belum ada yang menggerakkan gerakan dewa mabuk tersebut. Berbeda dengan gerakan dewa mabuk yang lain. Gerakan ini mengolah pada potensi bahu dan lengan. Sementara kaki dan pinggang tidak begitu dominan dalam fokus kepelatihan gerak.

Pengolahan gerak tidak hanya sebatas gerak di jalan panjang, tetapi banyak potongan-potongan gerak yang diberikan untuk dilatih secara periodik jika tempat tidak memungkinkan berlatih gerak jalan panjang. Potongan gerak tersebut terarah pada pelatihan ‘feeling’ dan ‘ritme gerak’. Bagaimana harus memegang sebuah kendang dengan perumpamaan memegang guci besar, dan bergerak memutar dengan tangan tetap di posisinya. Bahu tidak boleh naik, dan tangan tidak boleh turun.

Gerak jalan panjang dewa mabuk berbeda dengan jalan panjang kategori lima unsur (Ngo Heng), tumbuhan, senjata atau yang lain. Berlatih gerak jalan panjang dewa mabuk lebih sering berkeringat setelah selesai berlatih. Berbeda dengan berlatih jalan panjang yang lain, baru 2 kali bergerak saja, sudah langsung panas, langsung ON di badan. Tak hanya berusaha semaksimal mungkin dalam berlatih gerak secara reguler, tetapi pemaknaan penamaan jurus jalan panjang itu sendiri masih menjadi tanda tanya besar. Ya, sementara ini hanya sebatas gerak dan gerak saja.

(Bersambung….)

Posted by antosilat from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s