Selamat Datang di blog antosilat, artikel di blog ini sebatas catatan kecil selama 20 tahun, mengikuti pelatihan olah gerak “mind, body dan spirit”, di Perguruan PGB Bangau Putih.

Sekedar bagi-bagi pengalaman berlatih untuk saudara seperguruan ataupun pemerhati olah gerak ataupun beladiri.

Salam,
Anto

Silat Adventure

Tempat Ritual Berlatih Silat

Advertisements

Gallery  —  Posted: June 30, 2013 in Aktifitas
Tags: , , , , , ,

Kewajaran

Posted: October 2, 2017 in Berlatih Silat
Tags: , , ,

Kita sudah sangat akrab dengan kata “wajar” dan sering menggunakan kata, (yang salah satu artinya dalam KBBI daring adalah biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun) tersebut. Namun, tidaklah mustahil ketika menggunakannya, kita tak sepenuhnya sadar kalau ia bersifat subjektif dan oleh karenanya relatif. Apa lagi jika kita sampai memaksakan kewajaran kepada apa atau siapa pun. Alih-alih terlihat paham pada makna kewajaran malah mencerminkan “ketidak-sadaran” kita akan sifat subjektif dan relatif dari kewajaran itu sendiri.

Tingkat kesadaran dan kematangan mental-spiritual masing-masing individu berbeda. Lalu, mana yang bisa disebut “lebih wajar” atau “kurang wajar” dari yang lainnya? Hanya mereka yang telah benar-benar sadar, yang telah benar-benar matang dalam mental-spiritual bisa bersikap dan bertindak benar-benar wajar. Adalah mustahi untuk mengharapkan sesuatu yang wajar dari mereka yang belum benar-benar sadar dan masih mentah secara mental-spiritual. Menurut saya, mereka yang mencapai sadar penuh, yang telah matang secara mental-spiritual, apa pun yang diperbuatnya adalah kewajaran. Tentu saja tak semua orang bisa melihatnya demikian.

Saya membagi kewajaran menjadi dua jenis berdasarkan keadaan:
Wajar karena mampu; wajar ia berbuat menolong orang lain karena sadar akan kemampuannya untuk sanggup menolong orang lain
Wajar karena tidak mampu; wajar ia tidak menolong orang lain karena dia sendiri juga belum dapat menolong dirinya sendiri

Sesuatu yang wajar selalu apa adanya; jujur, tanpa pretensi atau kepura-puraan. Oleh karenanya, sesuatu yang wajar tampak biasa-biasa saja, tampak tidak istimewa; padahal, dalam esensinya tersembunyi keistimewaan. Bagaimana memandang kewajaran dari sudut pandang olah gerak badan?

 

Kewajaran Gerak Badan
Dalam olah gerak badan (Silat), sesuatu gerak yang tidak wajar diubah menjadi gerak yang wajar. Menjadi wajar karena terbiasa bergerak dalam patron tertentu. Kewajaran itu ada ketika pelaku menggerakkan badannya menurut pola gerak perguruan secara terus-menerus. Contohnya, saat orang umum (bukan pelaku gerak) berjalan kaki. Bentuk struktur tubuh dari semenjak umur satu tahun sudah diajarkan oleh orangtuanya dan akan terbentuk seperti menjadi kewajaran berjalan.

Di perguruan, bentuk cara berjalan diubah menjadi Kuda Berjalan. Dengan maksud secara bentuk agar dapat membedakan sebagai pelaku olah gerak dengan non pelaku olah gerak. Jika pelaku gerak badan, saat bergerak Kuda Berjalan, dengan struktur bentuk layaknya orang berjalan biasa (non pelaku gerak) maka bisa dipertanyakan apakah ia sedang berlatih atau sedang apa?

Dalam olah gerak badan, semakin kompleks yang namanya kewajaran ketika orang mengalami aktualitas, kedekatan, dan afinitas. Bagaimana pun pelaku gerak menghadapi kekinian saat bergerak, perlu ruang interaksi yang sama, juga ketertarikan atau simpati yang ditandai oleh persamaan kepentingan yaitu berlatih olah gerak badan. Tingkat kewajaran murid yang masih dalam tahap belajar silat berbeda dengan murid yang sedang berlatih silat.

Di mana letak perbedaan murid yang belajar silat dengan murid yang berlatih silat? Jika seseorang masih dalam tahap menghapal gerak dan sekadar bergerak maka bisa dibilang bahwa dirinya baru belajar silat. Sedangkan seseorang yang sudah mengolah gerak berulang-ulang dengan tekun dengan memperhatikan prinsip-prinsip gerak maka bisa dikatakan bahwa dirinya sudah berlatih silat.

 

Pretensi
Dalam pengalaman melatih silat, penulis menjelaskan secara mendetail, terutama kepada murid-murid yang telah berlatih minimal dua tahun, pada saat berlatih Ambilan. Di sini penulis akan membahas dari sisi rekan latihan yang menjadi objek latihan Ambilan.

Praktik Ambilan dalam Silat PGB adalah praktik berpasangan di mana salah satu orang bertindak pasif. Maksudnya, hanya bergerak memukul dengan posisi kuda-kuda (bhe-si) serta siap untuk jatuh. Praktik diterapkan dalam tiga tahap, terutama ditekankan pada yang memukul ‘bagaimana’ harus bersikap secara wajar. Tiga tahapan itu adalah:

Murid yang memukul bersikap memberi kesempatan agar rekan latihan dapat berlatih materi Ambilan. Dengan kondisi ini, murid yang memukul tidak harus memaksa untuk tidak jatuh dengan kuda-kuda (bhe-si) yang dikuat-kuatkan.
Murid yang memukul bersikap memberikan tantangan pada rekan latihan bagaimana pelaku Ambilan harus mengubah posisi dirinya sehingga lebih mudah untuk dijatuhkan. Dengan kondisi ini, kuda-kuda sedikit dapat dikuatkan sehingga posisi tidak mudah diubah. Namun perlu diingat ‘tidak perlu’ memaksa tidak mau jatuh.
Murid yang memukul bersikap wajar. Dengan kondisi ini materi feeling dan posisi dapat dilatih dari sisi aktual, kedekatan, maupun afinitas. Ia ditantang untuk jujur pada dirinya sendiri. Apakah memilih berperilaku memaksa atau mengalah? Pura-pura tidak akan menjadi bahan pembelajaran bagi sesama pelaku gerak.

Hal ini tentunya tak boleh lepas dari pengamatan pelatih dalam memberikan motivasi berlatih bagi murid. Penting bagi pelatih untuk menyadari bahwa kemampuan dan pemahaman tidak dapat diberlakukan merata pada murid-muridnya. Pelatih juga dapat memantau teknik, feeling, posisi, serta tempo satu-persatu muridnya saat praktik Ambilan.

Hal lain yang sempat menjadi pertanyaan bagi penulis adalah sampai sejauh mana pretensi akan mencuat kepermukaan saat berlatih Sam Po Kun? Ditilik dari metode pembelajarannya, Sam Po Kun berkutat tentang bagaimana seseorang bersikap dalam menyadari anggota/bagian badan saat bergerak. Reaksi berlebih dari rekan latihan saat ingin dijatuhkan, dengan bereaksi menahan atau bahkan melemaskan anggota badannya saat menerima aksi dari rekan latihan, akan membuat rekan latihan tidak berhasil melakukan praktik gerak dengan sewajarnya.

Apakah ini dapat menjadi pertanda pemaksaan saat bergerak? Kira-kira apakah ia juga menyadari ketidak-wajaran atas perilakunya? Bukankah ia sedang berlatih Sam Po Kun tapi seolah berlatih silat? Apakah ini juga kewajaran, karena ia tidak mampu?

 

“Tetap Berlatih, walau Ruang dan Waktu Sempit”

Mohon Maaf Lahir Batin

Posted: June 23, 2017 in Momentum
Tags: , ,

Rinengga suminaring surya dinten fitri cinandra resik ing wardaya,

Katur sugeng manghayubagya Idul Fitri nyuwun angunging samudra pangaksami, ing sedaya kalepatan kula sakluwarga “minal aidinwal faidzin”

Mugi kita tansah winengku ing karahayon, gesang, lan mugi tansah pikantuk ridho saking Gusti Allah SWT.

Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap doa,
bersimbah khilaf dan dosa, berharap dibasuh maaf dari lubuk hati yang paling dalam,
Inilah hari yang penuh kesucian dan kesukacitaan. Hari kemenangan dan hari untuk saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin dan selamat hari raya idul fitri

Admin


 

Ketika kita membicarakan tentang manusia, tidak akan terlepas dari pembahasan badan, hati dan pikiran. Manusia akan merasa bahagia jika terdapat keseimbangan dari tiga unsur tersebut. Penjelasan secara sederhana sebagai berikut:

 

  • Aktivitas adalah hasta/badan
  • Motivasi adalah karsa/keinginan yang datang dari pikiran
  • Tanggung jawab adalah rasa/hati.

 

Beraktivitas yang kurang diimbangi dengan karsa dan rasa atau motivasi dan tanggung jawab, cepat atau lambat akan membentur hasta atau badan. Akibatnya, seseorang akan merasa capek, bosan, jenuh. Ketika rasa tersebut dihubungkan dengan pikiran yang bimbang tidak bertujuan, maka hati mulai goyah. Motivasi menurun dan tanggung jawab terabaikan.

 

Sebaliknya, jika kita mengenali bahwa rasa bosan dan jenuh adalah wajar dan akan selalu ada, maka rasa ini dapat menjadi deteksi kesehatan dan pemicu prestasi yang baik. Artinya, ketika kita bosan, jenuh atau capek, harus kita sikapi dengan pertanyaan: apakah kita terlalu keras bekerja? Apakah kita kurang olahraga? Apakah pola makan dan pola hidup tidak seimbang? Atau kita kurang kreatif? Dan pertanyaan lain kepada diri kita yang akan memunculkan jawaban-jawaban positif. Selanjutnya, laksanakan hasil tanya-jawab dengan diri kita tersebut sehingga kita tetap beraktivitas. Inilah yang dimaksud menjadikan bosan dan jenuh sebagai teman aktivitas kita. Jadi, pendekatan ini merupakan pengenalan kelemahan diri untuk dijadikan kekuatan dalam hidup kita.

 

Dalam ilmu EQ (Emotional Quotient) dikatakan antara lain, seseorang ber-EQ cerdas harus dapat cepat bangkit dari kegagalan dan bersemangat kembali. Tujuannya adalah agar kita pantang menyerah, menerima kegagalan untuk menghadapi tantangan kehidupan, mampu merubah situasi bencana menjadi keberuntungan, menjadi manusia yang semakin baik. Kesemuanya itu merupakan satu pola : berpikir positif.

 

Membangkitkan pikiran positif

 

Ada sepotong cerita: sebuah perusahaan sepatu mengirim seorang sales A ke sebuah pulau. Ketika A tiba, betapa terkejutnya ia mendapati pulau itu dihuni oleh penduduk yang tidak berbaju layak apalagi sepatu! Pulanglah ia dengan lunglai dan mengatakan pada atasannya: “Tidak ada yang dapat saya lakukan, boss. Semua orang tidak pakai sepatu.” Lalu diutuslah sales B. Setiba B di pulau tersebut, dengan bersemangat ia mengatakan: “Ini dia peluang besar! Semua orang tidak bersepatu!”

 

Berpikir positif tidak sama dengan terlalu banyak berpikir secara untung rugi. Berpikir positif juga bukan untuk menuntut sebuah harapan tinggi. Tapi berpikir positif adalah pekerjaan hati. Bersedia dengan tulus melakukan yang terbaik dalam segala hal. Berpikir positif muncul dari tenaga positif, yang akan terkait kembali pada pola hidup setiap orang. Setiap kita mempunyai pola yang berbeda, untuk tujuan yang berbeda dan setiap orang akan menemukan jalan hidupnya.

 

Cerita lain: tiga orang tukang bangunan sedang bekerja. Ketika ditanya, “Sedang apa, Pak?”, Tukang A berkata: “Bekerja.” Tukang B menjawab: “Menyusun bata.” Jawaban tukang C adalah: “Saya sedang membangun sebuah kastil yang indah.”

 

Kira-kira, bagaimana dengan Anda?

 

 

 

 

positif

 

Belajar kepada alam

 

Pernahkah Anda memikirkan: mengapa ada pohon buah yang selalu berbuah lebat, tetapi ada juga yang hanya rimbun daun saja? Jawabnya adalah: pohon yang berbuah adalah pohon yang sanggup menjadikan kebosanan dan kejenuhan sebagai teman. Pohon yang tidak berbuah adalah pohon yang membiarkan kebosanan dan kejenuhan menggerogoti tanggung jawab kodratnya.

 

Coba bayangkan: pohon dapat bergerak, tumbuh tapi tidak berpindah. Setiap hari diterpa angin, hujan, panas atau terkadang gangguan manusia. Sebagai mahluk hidup, pohon juga merasakan kebosanan. Ketika pohon merasakan kebosanannya, ia akan memunculkan bunga untuk menyetop siklus rutin perkembangan batang dan daunnya. Jika pohon dapat mempertahankan siklus ini, bunga akan menjadi buah. Pohon akan memunculkan kehidupan baru setelah buah dipetik.

 

Sebaliknya, pohon yang masa bodoh dengan siklus rutinnya akan terus memperbesar batang dan menumbuhkan daun, lupa berbuah.

 

Bagaimana dengan pohon yang tidak berbuah? Ketika pohon merasakan kejenuhan dan akan memutus siklus rutinnya, pohon akan meranggas atau mematahkan dirinya. Kemudian muncul kehidupan baru.

 

Karena itu, belajar kepada alam, melakukan pembaruan diri berkesinambungan. Kenali kebosanan kita dan jadikan sebagai pemicu semangat untuk membuat hidup menjadi lebih baik.

 

(dikutip dari buletin wartabangau 2003, catatan tema perayaan bulan purnama tahun 2003)

 


Selama menjadi penasehat, Zhuge Liang (Tokoh Genius & Hebat di Zaman Sam Kok / Tiga Kerajaan) pernah menulis sebuah surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis1.800 tahun yang lalu itu sarat dengan dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, diantaranya berisi tentang 10 kekuatan manusia, yaitu :

  1. Kekuatan Keheningan

Keheningan membantu kita menenangkan diri untuk menjernihkan pikiran. Ia menjelaskan bahwa suasana hening membantu kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi segala tindakan, dan menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Ia juga menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam belajar adalah keheningan, sebab dalam keheningan kita dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup kita.

  1. Kekuatan Hidup Hemat

Zhuge Liang memberikan petunjuk bahwa hidup bersahaja akan menyelamatkan diri kita agar tidak diperbudak oleh materi. Hidup sederhana menurut sang penasehat ini membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Jangan terseret dalam pola hidup boros, sebab pola hidup boros suatu saat dapat mengubur kita kedalam tumpukan hutang dan puing-puing kehancuran.

  1. Kekuatan Membuat Perencanaan

Dalam surat-surat itu Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup. Fail to plan means plan to fail – Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas dengan baik pula. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.

  1. Kekuatan Belajar

Zhuge Liang dalam suratnya menyebutkan bahwa keheningan memaksimalkan pencapaian hasil dari tujuan belajar. Ia meyakini bahwa kemampuan manusia bukan berasal dari pembawaan sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan konsisten. Oleh sebab itu ia menyarankan agar kita tak pernah berhenti belajar sampai kapanpun. Sementara dalam proses pembelajaran, kerendahan hati akan sangat membantu kita menyerap dengan mudah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

  1. Kekuatan Nilai Tambah

Nasehatnya ini menekankan kita agar lebih banyak memberi, karena hal itu akan membuat kita lebih banyak menerima. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, diantaranya kepada keluarga, kerabat, teman, konsumen, mitra bisnis, dan lain sebagainya. Bila kita mampu memberikan sesuatu yang ekstra atau nilai tambah terhadap apa yang dibutuhkan orang lain, tentu saja mereka akan senang, merasa tersanjung dan terpesona. Tak heran jika selanjutnya mereka ingin selalu menjalin hubungan yang menguntungkan bagi Anda.

  1. Kekuatan Kecepatan

Beliau menesehat anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya menghambat usaha kita mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan memanajemen waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-sama dengan tim agar lebih cepat terselesaikan, “Alone we can do so little; together we can do so much. – Sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan; bersama kita kerjakan sangat banyak pekerjaan,” kata Hellen Keller.

  1. Kekuatan Karakter

Zhuge Liang menasehati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa, sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, “Diperlukan waktu hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh.”

  1. Kekuatan Waktu

Dalam suratnya Zhuge Liang menginginkan anaknya menghargai waktu. Sebab waktu berlalu sangat cepat, tak jarang ikut mengikis semangat dan cita-cita kita. Oleh sebab itu manajemen waktu dengan baik, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat.

  1. Kekuatan Imaginasi

Zhuge Liang memberikan nasehat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi tentang masa depan dikatakannya lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah diucapkan oleh Albert Einstein, “Imagination is everything. It is the preview of life’s coming attractions. – Imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang.”

  1. Kekuatan Kesederhanaan

Sang penasehat ini mencontohkan kekuatan kesederhanaan dalam setiap surat-suratnya yang singkat dan mudah dimengerti tetapi sarat tuntunan hidup positif. Tidak ada teori atau tuntunan hidup yang muluk-muluk, melainkan kebijaksanaan hidup yang sederhana. Begitupun jika kita ingin menghasilkan prestasi hidup yang luar biasa, tak perlu menggunakan teori yang rumit. Sekalipun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan sederhana tetapi jika dilakukan dengan konsisten maka kita akan mudah meraih visi dan misi. “

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai siapakah Zhuge Liang, bisa dilihat di website https://id.wikipedia.org/wiki/Zhuge_Liang

Sumber: FB Shushie Yauw


Tulisan ini dapat menjadi bahan refleksi diri, terima kasih untuk akun FB Shushie Yauw yang telah menulis 10 petuah ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan pada kita untuk menyempatkan waktu untuk membaca dan semoga dapat mengilhami bagaimana kita berperilaku yang baik. Terima kasih.

Sepenggal catatan

Posted: March 26, 2016 in Aktifitas

KATA² BIJAK PENYEJUK HATI

1► Jika kita memelihara ‘Kebencian Dendam’, maka seluruh ‘Waktu & Pikiran’ yang kita miliki akan Habis begitu saja dan kita tidak akan pernah menjadi ‘Orang Yang Produktif’…

2► Kekurangan Orang Lain adalah ‘Ladang Pahala’ bagi Kita untuk :
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya,
» dan Menjaga Aibnya.

3► Bukan ‘Gelar & Jabatan’ yang menjadikan ‘Orang Menjadi Mulia’.

Jika kualitas pribadi kita Buruk…
Semua itu hanyalah ‘Topeng Tanpa Wajah’….

4► Ciri Seorang ‘Pemimpin yang Baik’ akan tampak dari :
~ Kematangan Pribadi,
~ Buah Karya,
~ Integrasi antara ‘Kata & Perbuatan’ nya…

5► Jika kita belum bisa ‘Membagikan Harta’ atau membagikan kekayaan, maka bagikanlah ‘Contoh Kebaikan’
karena hal itu akan ‘Menjadi Tauladan’…

6► Jangan pernah menyuruh Orang lain untuk Berbuat Baik,
‘Sebelum menyuruh Diri Sendiri’, Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari ‘Diri Kita Sendiri’…

7► Pastikan kita sudah ‘Beramal’ hari ini, baik dengan :
~ Materi
~  Ilmu
~  Tenaga
~  minimal dengan ‘Senyuman yang Tulus’…

8► Para Pembohong akan ‘Dipenjara oleh Kebohongannya’
sendiri…
Orang yang Jujur akan ‘Menikmati Kemerdekaan’ dalam Hidupnya…

9► Bila memiliki ‘Banyak Harta’, maka kita lah yang akan ‘Menjaga Harta’,

Namun jika kita memiliki ‘Banyak Ilmu’, maka Ilmu lah yang akan ‘Menjaga kita’…

10► Bila ‘Hati kita Bersih’, tak ada
waktu untuk :
~ Berpikir Licik,
~ Curang,
~ atau Dengki  terhadap Orang lain.

11► Bekerja Keras adalah ‘Bagian Dari Fisik’, Bekerja Cerdas merupakan ‘Bagian Dari Otak’, sedangkan Bekerja Ikhlas adalah ‘Bagian Dari Hati’…

12► Jadikanlah setiap ‘Kritik’ bahkan ‘Penghinaan’ yang kita terima sebagai ‘Jalan Untuk Memperbaiki Diri’…

13► Kita tidak pernah tahu Kapan
‘Kematian’ akan menjemput kita, tapi yang kita tahu Persis adalah ‘Seberapa Banyak Bekal’ yang kita miliki untuk ‘MenghadapNya’…

Salam

Read the rest of this entry »