Selamat Datang di blog antosilat, artikel di blog ini sebatas catatan kecil selama 20 tahun, mengikuti pelatihan olah gerak “mind, body dan spirit”, di Perguruan PGB Bangau Putih.

Sekedar bagi-bagi pengalaman berlatih untuk saudara seperguruan ataupun pemerhati olah gerak ataupun beladiri.

Salam,
Anto

Silat Adventure

Tempat Ritual Berlatih Silat

Gallery  —  Posted: June 30, 2013 in Aktifitas
Tags: , , , , , ,


 

Ketika kita membicarakan tentang manusia, tidak akan terlepas dari pembahasan badan, hati dan pikiran. Manusia akan merasa bahagia jika terdapat keseimbangan dari tiga unsur tersebut. Penjelasan secara sederhana sebagai berikut:

 

  • Aktivitas adalah hasta/badan
  • Motivasi adalah karsa/keinginan yang datang dari pikiran
  • Tanggung jawab adalah rasa/hati.

 

Beraktivitas yang kurang diimbangi dengan karsa dan rasa atau motivasi dan tanggung jawab, cepat atau lambat akan membentur hasta atau badan. Akibatnya, seseorang akan merasa capek, bosan, jenuh. Ketika rasa tersebut dihubungkan dengan pikiran yang bimbang tidak bertujuan, maka hati mulai goyah. Motivasi menurun dan tanggung jawab terabaikan.

 

Sebaliknya, jika kita mengenali bahwa rasa bosan dan jenuh adalah wajar dan akan selalu ada, maka rasa ini dapat menjadi deteksi kesehatan dan pemicu prestasi yang baik. Artinya, ketika kita bosan, jenuh atau capek, harus kita sikapi dengan pertanyaan: apakah kita terlalu keras bekerja? Apakah kita kurang olahraga? Apakah pola makan dan pola hidup tidak seimbang? Atau kita kurang kreatif? Dan pertanyaan lain kepada diri kita yang akan memunculkan jawaban-jawaban positif. Selanjutnya, laksanakan hasil tanya-jawab dengan diri kita tersebut sehingga kita tetap beraktivitas. Inilah yang dimaksud menjadikan bosan dan jenuh sebagai teman aktivitas kita. Jadi, pendekatan ini merupakan pengenalan kelemahan diri untuk dijadikan kekuatan dalam hidup kita.

 

Dalam ilmu EQ (Emotional Quotient) dikatakan antara lain, seseorang ber-EQ cerdas harus dapat cepat bangkit dari kegagalan dan bersemangat kembali. Tujuannya adalah agar kita pantang menyerah, menerima kegagalan untuk menghadapi tantangan kehidupan, mampu merubah situasi bencana menjadi keberuntungan, menjadi manusia yang semakin baik. Kesemuanya itu merupakan satu pola : berpikir positif.

 

Membangkitkan pikiran positif

 

Ada sepotong cerita: sebuah perusahaan sepatu mengirim seorang sales A ke sebuah pulau. Ketika A tiba, betapa terkejutnya ia mendapati pulau itu dihuni oleh penduduk yang tidak berbaju layak apalagi sepatu! Pulanglah ia dengan lunglai dan mengatakan pada atasannya: “Tidak ada yang dapat saya lakukan, boss. Semua orang tidak pakai sepatu.” Lalu diutuslah sales B. Setiba B di pulau tersebut, dengan bersemangat ia mengatakan: “Ini dia peluang besar! Semua orang tidak bersepatu!”

 

Berpikir positif tidak sama dengan terlalu banyak berpikir secara untung rugi. Berpikir positif juga bukan untuk menuntut sebuah harapan tinggi. Tapi berpikir positif adalah pekerjaan hati. Bersedia dengan tulus melakukan yang terbaik dalam segala hal. Berpikir positif muncul dari tenaga positif, yang akan terkait kembali pada pola hidup setiap orang. Setiap kita mempunyai pola yang berbeda, untuk tujuan yang berbeda dan setiap orang akan menemukan jalan hidupnya.

 

Cerita lain: tiga orang tukang bangunan sedang bekerja. Ketika ditanya, “Sedang apa, Pak?”, Tukang A berkata: “Bekerja.” Tukang B menjawab: “Menyusun bata.” Jawaban tukang C adalah: “Saya sedang membangun sebuah kastil yang indah.”

 

Kira-kira, bagaimana dengan Anda?

 

 

 

 

positif

 

Belajar kepada alam

 

Pernahkah Anda memikirkan: mengapa ada pohon buah yang selalu berbuah lebat, tetapi ada juga yang hanya rimbun daun saja? Jawabnya adalah: pohon yang berbuah adalah pohon yang sanggup menjadikan kebosanan dan kejenuhan sebagai teman. Pohon yang tidak berbuah adalah pohon yang membiarkan kebosanan dan kejenuhan menggerogoti tanggung jawab kodratnya.

 

Coba bayangkan: pohon dapat bergerak, tumbuh tapi tidak berpindah. Setiap hari diterpa angin, hujan, panas atau terkadang gangguan manusia. Sebagai mahluk hidup, pohon juga merasakan kebosanan. Ketika pohon merasakan kebosanannya, ia akan memunculkan bunga untuk menyetop siklus rutin perkembangan batang dan daunnya. Jika pohon dapat mempertahankan siklus ini, bunga akan menjadi buah. Pohon akan memunculkan kehidupan baru setelah buah dipetik.

 

Sebaliknya, pohon yang masa bodoh dengan siklus rutinnya akan terus memperbesar batang dan menumbuhkan daun, lupa berbuah.

 

Bagaimana dengan pohon yang tidak berbuah? Ketika pohon merasakan kejenuhan dan akan memutus siklus rutinnya, pohon akan meranggas atau mematahkan dirinya. Kemudian muncul kehidupan baru.

 

Karena itu, belajar kepada alam, melakukan pembaruan diri berkesinambungan. Kenali kebosanan kita dan jadikan sebagai pemicu semangat untuk membuat hidup menjadi lebih baik.

 

(dikutip dari buletin wartabangau 2003, catatan tema perayaan bulan purnama tahun 2003)

 


Selama menjadi penasehat, Zhuge Liang (Tokoh Genius & Hebat di Zaman Sam Kok / Tiga Kerajaan) pernah menulis sebuah surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis1.800 tahun yang lalu itu sarat dengan dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, diantaranya berisi tentang 10 kekuatan manusia, yaitu :

  1. Kekuatan Keheningan

Keheningan membantu kita menenangkan diri untuk menjernihkan pikiran. Ia menjelaskan bahwa suasana hening membantu kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi segala tindakan, dan menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Ia juga menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam belajar adalah keheningan, sebab dalam keheningan kita dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup kita.

  1. Kekuatan Hidup Hemat

Zhuge Liang memberikan petunjuk bahwa hidup bersahaja akan menyelamatkan diri kita agar tidak diperbudak oleh materi. Hidup sederhana menurut sang penasehat ini membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Jangan terseret dalam pola hidup boros, sebab pola hidup boros suatu saat dapat mengubur kita kedalam tumpukan hutang dan puing-puing kehancuran.

  1. Kekuatan Membuat Perencanaan

Dalam surat-surat itu Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup. Fail to plan means plan to fail – Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas dengan baik pula. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.

  1. Kekuatan Belajar

Zhuge Liang dalam suratnya menyebutkan bahwa keheningan memaksimalkan pencapaian hasil dari tujuan belajar. Ia meyakini bahwa kemampuan manusia bukan berasal dari pembawaan sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan konsisten. Oleh sebab itu ia menyarankan agar kita tak pernah berhenti belajar sampai kapanpun. Sementara dalam proses pembelajaran, kerendahan hati akan sangat membantu kita menyerap dengan mudah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

  1. Kekuatan Nilai Tambah

Nasehatnya ini menekankan kita agar lebih banyak memberi, karena hal itu akan membuat kita lebih banyak menerima. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, diantaranya kepada keluarga, kerabat, teman, konsumen, mitra bisnis, dan lain sebagainya. Bila kita mampu memberikan sesuatu yang ekstra atau nilai tambah terhadap apa yang dibutuhkan orang lain, tentu saja mereka akan senang, merasa tersanjung dan terpesona. Tak heran jika selanjutnya mereka ingin selalu menjalin hubungan yang menguntungkan bagi Anda.

  1. Kekuatan Kecepatan

Beliau menesehat anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya menghambat usaha kita mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan memanajemen waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-sama dengan tim agar lebih cepat terselesaikan, “Alone we can do so little; together we can do so much. – Sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan; bersama kita kerjakan sangat banyak pekerjaan,” kata Hellen Keller.

  1. Kekuatan Karakter

Zhuge Liang menasehati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa, sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, “Diperlukan waktu hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh.”

  1. Kekuatan Waktu

Dalam suratnya Zhuge Liang menginginkan anaknya menghargai waktu. Sebab waktu berlalu sangat cepat, tak jarang ikut mengikis semangat dan cita-cita kita. Oleh sebab itu manajemen waktu dengan baik, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat.

  1. Kekuatan Imaginasi

Zhuge Liang memberikan nasehat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi tentang masa depan dikatakannya lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah diucapkan oleh Albert Einstein, “Imagination is everything. It is the preview of life’s coming attractions. – Imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang.”

  1. Kekuatan Kesederhanaan

Sang penasehat ini mencontohkan kekuatan kesederhanaan dalam setiap surat-suratnya yang singkat dan mudah dimengerti tetapi sarat tuntunan hidup positif. Tidak ada teori atau tuntunan hidup yang muluk-muluk, melainkan kebijaksanaan hidup yang sederhana. Begitupun jika kita ingin menghasilkan prestasi hidup yang luar biasa, tak perlu menggunakan teori yang rumit. Sekalipun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan sederhana tetapi jika dilakukan dengan konsisten maka kita akan mudah meraih visi dan misi. “

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai siapakah Zhuge Liang, bisa dilihat di website https://id.wikipedia.org/wiki/Zhuge_Liang

Sumber: FB Shushie Yauw


Tulisan ini dapat menjadi bahan refleksi diri, terima kasih untuk akun FB Shushie Yauw yang telah menulis 10 petuah ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan pada kita untuk menyempatkan waktu untuk membaca dan semoga dapat mengilhami bagaimana kita berperilaku yang baik. Terima kasih.

Sepenggal catatan

Posted: March 26, 2016 in Aktifitas

KATA² BIJAK PENYEJUK HATI

1► Jika kita memelihara ‘Kebencian Dendam’, maka seluruh ‘Waktu & Pikiran’ yang kita miliki akan Habis begitu saja dan kita tidak akan pernah menjadi ‘Orang Yang Produktif’…

2► Kekurangan Orang Lain adalah ‘Ladang Pahala’ bagi Kita untuk :
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya,
» dan Menjaga Aibnya.

3► Bukan ‘Gelar & Jabatan’ yang menjadikan ‘Orang Menjadi Mulia’.

Jika kualitas pribadi kita Buruk…
Semua itu hanyalah ‘Topeng Tanpa Wajah’….

4► Ciri Seorang ‘Pemimpin yang Baik’ akan tampak dari :
~ Kematangan Pribadi,
~ Buah Karya,
~ Integrasi antara ‘Kata & Perbuatan’ nya…

5► Jika kita belum bisa ‘Membagikan Harta’ atau membagikan kekayaan, maka bagikanlah ‘Contoh Kebaikan’
karena hal itu akan ‘Menjadi Tauladan’…

6► Jangan pernah menyuruh Orang lain untuk Berbuat Baik,
‘Sebelum menyuruh Diri Sendiri’, Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari ‘Diri Kita Sendiri’…

7► Pastikan kita sudah ‘Beramal’ hari ini, baik dengan :
~ Materi
~  Ilmu
~  Tenaga
~  minimal dengan ‘Senyuman yang Tulus’…

8► Para Pembohong akan ‘Dipenjara oleh Kebohongannya’
sendiri…
Orang yang Jujur akan ‘Menikmati Kemerdekaan’ dalam Hidupnya…

9► Bila memiliki ‘Banyak Harta’, maka kita lah yang akan ‘Menjaga Harta’,

Namun jika kita memiliki ‘Banyak Ilmu’, maka Ilmu lah yang akan ‘Menjaga kita’…

10► Bila ‘Hati kita Bersih’, tak ada
waktu untuk :
~ Berpikir Licik,
~ Curang,
~ atau Dengki  terhadap Orang lain.

11► Bekerja Keras adalah ‘Bagian Dari Fisik’, Bekerja Cerdas merupakan ‘Bagian Dari Otak’, sedangkan Bekerja Ikhlas adalah ‘Bagian Dari Hati’…

12► Jadikanlah setiap ‘Kritik’ bahkan ‘Penghinaan’ yang kita terima sebagai ‘Jalan Untuk Memperbaiki Diri’…

13► Kita tidak pernah tahu Kapan
‘Kematian’ akan menjemput kita, tapi yang kita tahu Persis adalah ‘Seberapa Banyak Bekal’ yang kita miliki untuk ‘MenghadapNya’…

Salam

Read the rest of this entry »

Berlatih Keterampilan

Posted: August 27, 2014 in Aktifitas

Salah satu metode pelatihan di PGB Bangau Putih adalah pelatihan ‘keterampilan’ yang diperkenalkan pada anggotanya pada awal tiap sesi latihan. Misalnya gulingan depan, gulingan samping, dan gulingan belakang. Mengapa harus dipelajari? Karena hal ini penting dari sisi kesehatan, silahkan lihat detail tentang badan kita, baik mengenai kesehatan tulang, otot, dan saraf. Dari bagian tersebut masih terbagi atas berbagai macam jenis dan fungsinya. Namun pada kesempatan ini tentunya saya tidak mungkin menulis secara rinci baik mengenai tulang, otot maupun saraf. Sudah pasti di sisi ilmu kesehatan (baca: kedokteran) akan lebih terperinci dan lebih dipercaya sumbernya. (Maklum saya tidak belajar khusus tentang anatomi tubuh).

Kita kembali ke sisi gerak. Secara individu pelaku olah gerak di PGB Bangau Putih akan mengalami sekaligus beradaptasi dengan berbagai macam olah gerak keterampilan yang ada. Untuk itu, seorang pelaku gerak sebelum memasuki latihan pada tingkat apa pun pasti akan diperkenalkan dan sekaligus mengalami jenis-jenis jatuhan, gulingan, dan lainnya. Pada tahap latihan keterampilan ini, ketika murid berlatih disarankan untuk tidak bercanda atau main-main. Pelaku harus menyadari jika berlatih jatuhan juga harus belajar (berani) jatuh, atau jika berlatih gulingan juga tentu saja harus dengan berguling bukan membanting diri. Berolah gerak dengan penyadaran tersebut, pada tahap awal, akan membantu pelaku untuk belajar mengaktualisasikan diri, demi pencapaian kualitas olah gerak badannya dan supaya terhindar dari cedera. Hal ini disebabkan karena bagaimana pun sisi pelatihan keterampilan akan membentuk murid secara fisik dan stamina menjadi lebih kuat dibanding dengan murid yang jarang melakukan olah gerak keterampilan. Setelah melalui tahap mengenal selanjutnya adalah tahap pengolahan.

OLAH TUBUH

Jika kita simak maka bagian-bagian tubuh terbagi atas 3 bagian besar yaitu kepala, badan, dan kaki. Metode pelatihan keterampilan gulingan depan diperuntukkan mengolah badan bagian belakang. Kenapa begitu? Dengan sikap berguling seperti layaknya sebuah bola maka punggung akan berguling dan dengan sendirinya akan bersinggungan langsung dengan lantai latihan. Apalagi di bagian punggung terdapat susunan saraf tulang belakang sebagai sumber saraf bagi badan manusia. Gerak keterampilan pastinya juga berhubungan dengan sisi kesehatan. Secara logika, badan yang terolah dengan badan yang tidak diolah akan berbeda tingkat kesehatannya.

Seorang murid setelah mendapatkan sebuah gerak keterampilan dapat juga melatih sendiri gerak tersebut. Dengan lebih sering melatih akan mendapatkan irama gerak tubuh secara nyata sehingga tanpa disadari akan timbul gerak refleks pada tubuh. Semisal melatih gulingan depan atau yang sekarang lebih akrab disebut gerak jalan pendek ‘macan tutul berguling’. Pada tahap pengolahan, bagaimana tubuh sampai pada tahap melupakan pikiran untuk tiap anggota badannya ketika akan bergerak. Di saat pikiran menginginkan gerak tersebut (gulingan depan) secara spontan badan akan merefleksikan diri pada tangan, kepala, bahu, punggung dan kaki; dan semua itu akan diperoleh pada saat melatih gerak yang berulang-ulang.

Apakah gerak tersebut dapat membantu seseorang saat mengalami sakit tertentu?

Dengan melakukan olah tubuh seseorang dapat mengenal badannya sendiri, mendiagnosa badannya bahkan menyembuhkan keluhan badaniah tanpa obat-obatan. Atau setidaknya, olah tubuh yang dijalani dapat menjadi sikap sedia payung sebelum hujan; menjaga sebelum mengobati.

Hampir semua pelaku gerak di perguruan mengalami mual-mual dan pusing setelah berlatih gulingan depan. Mengapa demikian? Wajar saja, tubuh yang seakan-akan diaduk berulang-ulang akan menimbulkan kontraksi pada bagian perut. Hal ini akan lebih cepat terjadi jika pelaku jarang berolahraga atau terlalu banyak racun di dalam tubuhnya. Maklum,perut sering kita anggap sebagai ‘gudang sampah’ karena semua makanan yang kita pilih tertelan dan tertampung di lambung. Namun, seringnya berlatih akan berangsur-angsur memperbaiki sistem metabolisme di badan kita.

 

Mengenai pertanyaan apakah bisa membantu ketika ada keluhan penyakit tertentu, bisa dikatakan ya. Sebut saja salah satunya tekanan darah tinggi. Tentu saja ini memerlukan proses. Olah tubuh tidak mengajarkan perilaku bersikap dan berpikir instan. Dengan bergulingnya badan ke depan akan mengolah peredaran darah belakang sehingga meningkatkan penyerapan kadar oksigen ke otak. Sementara di bagian punggung akan serasa dipijit sehingga dapat memperlancar peredaran darah dan menyehatkan fungsi syaraf-syaraf.  Jika di punggung terdapat sumber syaraf, seperti kawat-kawat elektrik yang mengangkut informasi dari otak ke seluruh tubuh dan sebaliknya, sehingga terdistribusi ke seluruh tubuh. Ini saya cuplikan dari artikel kedokteran di ranah maya http://totalkesehatananda.com .

 

  • Syaraf-syaraf Motor (efferent) mengangkut informasi dari otak keluar ke tubuh. Ini mengizinkan otak untuk mengirim perintah-perintah ke berbagai organ-organ tubuh. Contohnya, perintah-perintah ini dikirim ke otot-otot menyebabkan mereka untuk berkontraksi dan bergerak, atau mengirim informasi ke jantung untuk berdenyut lebih cepat atau lebih perlahan.

 

  • Syaraf-syaraf Sensory (afferent) mengirim informasi dari tubuh balik ke otak untuk pemrosesan, termasuk informasi tentang nyeri, sentuhan, rasa, temperatur, atau sensasi-sensasi lain.

 

Informasi berjalan sepanjang syaraf dengan sinyal electrochemical, banyak seperti informasi yang berjalan sepanjang kawat elektrik. Ketika syaraf terjepit, sinyal terputus di suatu tempat sepanjang jalurnya.

 

Nah….., apakah kita ingin mengalami syaraf kejepit? Semoga tidak.

 

“Tetap berlatih walau ruang dan waktu sempit” (An)

SILAT: TENTANG SIKAP DAN PERILAKU

Posted: May 21, 2014 in Umum

Pencak Silat sebagai hasil krida budi atau karya pengolahanakal, kehendak, dan rasa yang dilandasi kesadaran akan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Secara garis besar pencak silat terdiri dari aspek yang merupakan satu kesatuan utuh dan bulat, yakni aspek mental spiritual, beladiri, seni, dan olahraga. Keempat aspek tersebut baik masing-masing maupun sebagai kesatuan mengandung materi pendidikan yang menyangkut sifat dan sikap ideal, yakni sifat dan sikap yang menjadi idaman bagi hidup pribadi, hidup di masyarakat, dan hidup beragama.

Ada beberapa pengertian tentang sikap (attitude) dan perilaku (behavior) menurut beberapa sumber diantaranya: Carl Jung seorang ahli yang membahas tentang sikap. Ia mendefinisikan tentang sikap sebagai “Kesiapan dari psikis untuk bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu”. Sikap sering muncul dalam bentuk pasangan, satu disadari sedang yang lainnya tidak disadari. Dari sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa, dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu.

Seseorang pun dapat menjadi ambivalen terhadap suatu target, yang berarti ia terus mengalami bias positif dan negatif terhadap sikap tertentu. Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.

Bagaimana korelasi gerak badan di perguruan silat PGB Bangau Putih mengenai  sikap dan perilaku bagi anggotanya? Jika menyimak dari diskusi bulanan pada awal bulan Mei yang lalu tentang gerak Jalan Pendek, patut kita syukuri bahwa Guru Besar Gunawan Rahardja meluangkan waktunya dengan memberikan penjelasan tentang pemaknaan Gerak jalan pendek di antara “keluwesan, kelembutan, dan kelugasan”. Terpikirkan oleh penulis jika sesi gerak jalan pendek benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa dibuat-buat, apa adanya, dan pelaku benar-benar ingin mengolah diri apakah benar ada korelasi dengan tata kehidupan individu yang melakukan gerak tersebut?

Faktor Pembangun

Sikap dan perilaku dapat dibangun mulai dari usia anak-anak hingga usia remaja. Pendidikan informal silat ini dapat menanamkan sisi pendidikan budi pekerti yang semakin terkikis oleh kurikulum pendidikan dasar sekarang ini. Sampai sejauh mana ‘sanggup menjaga sopan santun’ dari butir sumpah warga persatuan tertanam dari perilaku seorang anggota? Dengan tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur (Haidar, 2004). Hal ini mengandung arti bahwa dalam pendidikan budi pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia ke dalam diri peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya.

Sudah menjadi pembicaraan umum mengenai tingkat gangguan sosial di era sekarang lebih kompleks dibanding dengan era tahun 1990-an hingga 2000-an. Mengapa begitu? Kemajuan era teknologi mendorong masyarakat umum berpotensi merubah budaya dan gaya hidup. Berakibat tumbuh suburnya anti sosial dari usia dewasa hingga usia anak-anak. Sisi negatif yang memang tidak terlalu cepat berpengaruh tetapi lambat laun akan menyeret dan membawa pelakunya asyik dengan diri sendiri. Apakah kita sadari begitu bangun pagi banyak antara kita langsung pegang gadget? Jalan kaki sambil bergadget? Kita tengok anak-anak sekarang saat bergadget juga, bagaimana mereka terkadang tidak menjawab ketika ditanya dan perlu beberapa kali disapa atau menjawab tanpa melihat kepada siapa mereka bicara. Hingga sekarang sudah menjadi tren di masyarakat Indonesia di semua lapisan.

Saatnya merubah paradigma silat hanya sebatas beladiri! Silat dapat membentuk sebuah karakter yang lebih manusiawi dibanding mesin, karena pelaku silat memerlukan interaksi dengan orang lain – seperti saat bergerak juga memerlukan pasangan untuk saling belajar memukul dan menangkis, belajar menjatuhkan yang benar.  Dengan demikian, tampak bahwa silat juga lebih berpihak pada keaslian bentuk berbudaya sosial. Silat membawa pelakunya lebih peduli pada dunia nyata, dan lain sebagainya. Semoga dengan jalan silat yang dapat dijalankan mulai dari keluarga masing-masing dapat mengembalikan kondisi semula dan gadget hanya sebatas keperluan sesaat. Semoga. (an)